isis1_ratio-16x9

Abu Walid, Algojo ISIS yang Brutal dan Imut dari Solo

isis1_ratio-16x9

ulfa – Kepemimpinan kelompok ISIS di Indonesia terbelah menjadi tiga patron: Bahrun Naim, Bahrumsyah alias Abu Muhammad al-Indonesi dan Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal. Tiga nama itu begitu dihormati dan disegani para ISISers – bahasa slang kelompok jihadis untuk menyindir para pendukung ISIS di Indonesia. 

Bahru Naim adalah sosok yang tidak menyukai popularitas. Dia cenderung lebih suka bekerja di belakang layar. Berbeda dengan Bahrumsyah dan Abu Jandal. Nama dua orang ini kian populer saat berani muncul secara terang-terangan dalam video yang dirilis resmi oleh ISIS. Dalam video itu mereka tak segan mengancam pemerintah, TNI dan Polri. 

Sudah menjadi tipikal setiap video resmi ISIS untuk memunculkan sosok-sosok yang cukup penting. Jika tidak pelaku “isytihadi”, dia pasti orang berpengaruh pada regional yang jadi target propaganda dalam video mereka.  Dan untuk Indonesia, pelakon utama itu adalah Abu Jandal dan Bahrumsyah.

Namun jika menilik seluruh video yang dirilis oleh ISIS, publik Indonesia seolah lupa bahwa selain Abu Jandal dan Bahrumsyah, ada lagi sosok yang lebih mengerikan. Dia tak sekadar memaki-maki pemerintah, namun juga melakukan aksi sadis dan brutal di depan kamera: menyembelih sandera. 

Dia adalah Abu Walid alias Mohammed Yusop Karim Fais alias Saifuddin. 

Hari Kamis lalu (24/10/16), di sebuah grup telegram para ISISers beredar sebuah video bai’at kelompok ISIS di Filipina berjudul “Bangunan yang kokoh”. Sebenarnya ini bukanlah rekaman terbaru. Si penyebar video pun sudah mengatakan ini adalah video repost. Rekaman ini dirilis pada 21 Juni 2016 lalu dan disebarkan oleh media ISIS berbasiskan bahasa melayu, Al-fatihin. 

Media Singapura, The Strait Times yang kemudian dikutip media-media Indonesia sempat memberitakan rekaman ini. Video berdurasi 21 menit ini jadi heboh karena menegaskan bahwa eksistensi ISIS di Asia Tenggara memang betul adanya. 

Inti pesan dalam rekaman itu adalah menyerukan agar mereka yang tidak sanggup “berjihad” di Suriah dan Irak bisa bergabung dengan milisi yang sudah berbaiat kepada ISIS di Filipina Selatan. Yang luput dari pemberitaan media nasional adalah kemunculan Abu Walid dalam video itu. Saking pentingnya dia, Abu Walid diberi kesempatan melakukan agitasi dengan durasi cukup panjang, 5 menit 35 detik. 

Sambil menenteng AK-47, Abu Walid duduk di atas hamparan batu karang. Dia memunggungi laut yang berarus tenang. Desiran angin dan ombak yang tenang jadi latar belakang suara agitasi Abu Walid yang gelagapan. Dalam video ini dia memang terlihat gugup, seringkali dia salah ucap, keseleo lidah dan melakukan pengulangan kosa kata, terutama saat menyebut terjemahan ayat-ayat Al-Quran.  

Penampilan Abu Walid tidaklah sangar dan gagah laiknya anggota ISIS asal Timur Tengah, Eropa atau Chechnya. Dia kecil, dadanya pun tak berbidang, bahunya juga tidak lebar, otot bisep dan trisepnya tidak terbentuk. Meski gagah memeluk AK-47 hal itu tidak menutupi kekurangan badannya yang kurus kerempeng. Wajar jika baju gamisnyanya yang berwarna abu-abu terlihat kedodoran. 

Di saat Bahrumsyah dan Abu Jandal tampil berkumis dan berjenggot, Abu Walid memilih klimis. Tanpa kumis dan jenggot ditambah matanya yang agak kesipit-sipitan membuatnya seolah seperti tentara Jepang yang tersesat di gurun pasir. 

Namun sifat sadisme itu tak linier dengan fisiknya. Siapa pun bisa memiliki sifat sadis. Di akhir rekaman, Abu Walid berdiri berjejeran bersama Abu Aun asal Malaysia dan Abu Abdurrahman asal Filipina.  Di depan mereka duduk bersimpuh tiga tahanan memakai baju oranye. 

Dan dengan keji, aksi brutal menyembelih hidup-hidup para sandera pun mereka dilakukan. Setelah digorok, kepala sandera dipotong sampai putus. Sampai saat ini, Abu Walid adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang terekam pernah melakukan pekerjaan menyembelih orang seperti Jihadi John. 

Siapakah sebenarnya Abu Walid ini?

Di Indonesia, orang lebih mengenal Abu Walid sebagai Mohammed Yusop Karim Faiz. Dia berasal dari Desa Tempursari, Klaten, Jawa Tengah. Di kampungnya, Abu Walid lebih dikenal sebagai Saifuddin. Dia lahir pada 11 Oktober 1978 dan merupakan putera bungsu dari pasangan Basri dan Sa’adah. Dia memiliki saudara kembar bernama Muhammad Nurrudin. Pengamat terorisme Sydney Jones menyebut Abu Walid adalah adik kandung dari ulama terkenal di Solo, Dr. Mu’inudinillah Basri, MA, yang sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah kota Surakarta.

Abu Walid adalah alumnus Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir. Dia belajar di Ponpes Ngruki selama empat tahun, namun tidak sampai lulus Khuliaffatul Mua`limin (setara SMU). Sekolahnya kemudian dilanjutkan di Jatibarang, Purwokerto. 

Saat kerusuhan Ambon meletus, dia dikabarkan ikut berjihad di sana. Setelah berjihad di Ambon, Faiz pun melanjutkan sekolahnya di Universitas Ibnu Sa’ud, Riyadh, Arab Saudi. 

Pada awal dekade 2000-an, Kenneth J. Conboy dalam bukunya berjudul The Second Front: Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist Network (2006) menyebut Abu Walid terlibat dalam jaringan Jamaah Islamiyah. Dia amat dekat dengan Noordin M Top. Dia menjadi penyalur uang dari Timur Tengah kepada Noordin M. Top. Tidak hanya itu dia pun sering bolak-balik ke Filipina Selatan untuk menjalin kontak dengan Dulmatin. 

Pada 2004, Faiz ditangkap pemerintah Filipina karena kedapatan tidak memiliki dokumen, serta membawa pistol dan bahan peledak. Setelah 9 tahun mendekam di penjara, pada 10 Desember 2013 pengadilan Filipina membebaskannya dan memulangkannya kembali ke Indonesia. Kabarnya Faiz pun menghilang.

Dia kembali jadi sorotan aparat keamanan setelah muncul dalam video ISIS pada Februari lalu. Dalam video itu, Faiz hanya jadi cameo dan tak diberi peran menyembelih orang seperti video kedua yang dirilis bulan Juni.

Sydney Jones sepakat bahwa Abu Walid alias Faiz adalah orang penting dalam jejaring ISIS di Asia Tenggara. “Karena penting itulah, dia sudah muncul dua kali di video,” katanya kepada Tirto.

Dia mengatakan peran penting Abu Walid dalam kelompok Katibah Nusantara (ISIS di Asia Tenggara) disebabkan jejaringnya yang cukup luas di Indonesia dan Filipina. Hal yang amat wajar jika sosok yang dimunculkan untuk mengintruksikan para pendukung ISIS berjihad di Filipina bersama kelompok Abu Sayyaf adalah Abu Walid, bukan memunculkan sosok Bahrumsyah. 

Seperti diketahui Katibah Nusantara merupakan bagian dari kelompok Bahrumsyah. Lantas apakah posisi Abu Walid di bawah Bahrumsyah? “Saya tidak tahu dia di bawah atau sejajar. Namun, sepertinya Abu Walid memang dekat dengan Bahrumsyah, namun kami tidak ada bukti,” kata Sydney lagi. 

Lantas di manakah Abu Walid saat ini? Sydney hanya bisa geleng-geleng. “Saya tidak tahu karena kondisi di sana sekarang sudah berubah.”

Di Irak dan Suriah, ISIS memang sedang kepayahan. Di Irak, Mosul kini hampir direbut pasukan koalisi. Di Suriah, Raqqa pun kini hampir jatuh setelah pasukan kurdi YPG dan pemberontak moderat Suriah yang dibantu Turki semakin merangsek mendekati ibukota ISIS tersebut.  

Jika menilik rekaman video Abu Walid, saat rekaman itu diambil tampaknya dia sedang berada di sekitaran Raqqa, terlihat dari latar belakang pengambilan gambar yang lokasinya berada di Danau Assad. Sampai sekarang hidup mati Abu Walid masih simpang siur.

Namun, saat kecamuk perang memanas sejak bulan Oktober, pada 5 November 2016 muncul sebuah artikel tulisan Abu Walid dengan judul “Beginilah Kondisi Lingkungan Masyarakat di Wilayah Daulah Islam (IS”) di media yang berafiliasi mendukung ISIS”.

Isi tulisannya menggambarkan pengalaman yang dialaminya, mulai dari penutupan toserba karena kedapatan menjual barang yang sudah kadaluwarsa. Warnet yang ditutup karena ketahuan mengunduh video klip porno, nelayan yang dimarahi polisi ISIS karena mengambil ikan saat musim bertelur, sampai pengalamannya yang ditegur supir taksi karena lupa mengucapkan salam. 

Sungguh tidak ada kesan mengerikan yang diceritakan Abu Walid. Tidak ada kisah sengitnya peperangan penuh darah yang biasa diceritakan para propagandis ISIS lainnya. Dalam tulisannya itu Abu Walid memunculkan kesan polos dan jenaka. 

Bahkan Anda akan tidak percaya, pada penutup artikelnya, Abu Walid memunculkan sifat kekanak-kanakannya, yang jauh dari kata sangar, gagah atau macho, bahkan cenderung imut dalam berekspresi melalui tulisan. Tidak percaya? Coba saja baca kalimat penutupnya ini.

“Beginilah keadaan lingkunganku, bagaimana dengan negaramu yang kamu tinggali? ^_~.. Kapan mau nyusuulll..? (Tertanda) Dawlatul Khilafah, Saudaramu yang merindukan kedatanganmu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *