Sri-Paus-Franciskus-2-696x461

Analisis Terkini Situasi Politik Dunia, 2016-2017 yang Penuh Gejolak Besar

Sebelum berangkat menuju Milan dalam rangka kunjungannya, Paus Francis (Fransiskus) sempat diwawancara media massa dan berbicara soal gejolak anarkis dan konflik di Eropa dan seluruh dunia.

“Kita seharusnya tidak takut mengungkap fakta bahwa dunia sedang dalam kondisi perang, karena telah kehilangan perdamaian. Perang yang saya maksud bukan perang agama, melainkan perang demi perebutan kepentingan, uang, sumber daya, dan wilayah,” kata Francis.

Ungkapan Sri Paus bukan tidak beralasan. Bahkan Hongkong yang berada jauh di ujung belahan dunia lainnya, beberapa waktu lalu juga sempat diselimuti atmosfir peperangan. Baik karena pertentangan RRT-Jepang di Laut Timur, atau konflik sengit di Laut Tiongkok Selatan, sarat dengan bau mesiu. Faktanya, sejak 2014 sudah ada ramalan yang mengatakan, pada 2016 hingga 2017 adalah dua tahun yang paling bergejolak di seluruh dunia, berbagai hal yang tidak terduga oleh manusia sebelumnya akan terjadi tiba-tiba.

Saat ini Partai Komunis Tiongkok/PKT sedang menapak jalan memperkuat militer untuk bersiap perang dan perlombaan persenjataan militer. RRT sekarang dijuluki sebagai badan ekonomi kedua terbesar di dunia, tapi pasukan militer PKT juga diakui sebagai ketiga terbesar dunia. Saat ini PKT sedang melawan AS dan berambisi menyebarkan ideologi mereka, ideologi komunisme. Amerika juga sedang menyesuaikan kembali strategi perangnya di Asia.

Paus Francis ketika tiba di Hall Paul VI menghadiri audiensi umum mingguan di Vatikan beberapa waktu lalu. (AP)
Paus Francis ketika tiba di Hall Paul VI menghadiri audiensi umum mingguan di Vatikan beberapa waktu lalu. (AP)

Membuka lembaran sejarah manusia, naik peringkat dari urutan kedua menjadi pertama, selamanya adalah proses yang penuh dengan darah dan perjuangan. Dalam kebangkitan sebuah Negara, manusia belum pernah mengalaminya secara damai.

Di akhir abad ke-19 orang Amerika menjadi nomor satu di dunia dalam hal kemampuan produksi dan ekonomi yang kala itu telah melampaui Inggris, tapi hingga menjelang PD-II, kekuatan militer AS kira-kira menduduki posisi ke-10 di seluruh dunia, lebih terbelakang dibandingkan dengan Jepang dan Italia, inilah alasan utama mengapa Jepang berani menantang AS.

Akibat menggeloranya paham isolasi, merasa “mengasingkan diri” di daratan luas, terutama karena tidak ingin terlalu banyak berhubungan politik juga ekonomi dengan Eropa. Tapi setelah meletus PD-II, karena ideologi AS lebih condong pada Inggris, akhirnya ikut terlibat perang.

Setelah PD-II usai, dua blok system biner di dunia, dimulai dari Perang Dingin kemudian lantas terbentuk keseimbangan yang menakutkan, tapi justru telah menjadikan damai di seluruh dunia selama lebih dari 70 tahun. Kini, bukankah perdamaian ini akan segera berakhir?

Penulis rubrik khusus di surat kabar “Financial Times” bernama Philip Stephens beberapa hari lalu menulis artikel berjudul “Ketertiban Dunia Yang Telah Kacau” mengatakan, baru-baru ini di dunia telah terjadi serangkaian peristiwa serangan teroris dan konflik internasional.

Dilihat dari permukaan sepertinya tidak ada kaitannya sama sekali, tapi jika diamati lebih seksama, akan ditemukan sejumlah metode yang membuat manusia menjadi tidak tenang. Paham nasionalis yang kian hari kian menggelora, status politik, celaan terhadap tatanan yang ada sekarang, serta perpecahan tubuh internasional akibat peraturan. Pemerintah masing-masing negara kehilangan kemampuan mengendalikan, kehilangan kepercayaan rakyat, sifat suka bertikai di dalam ajang politik dalam negeri menyebar hingga ke pentas dunia.

Menurut penulis, kunci dari semua ini adalah akibat “metode tatanan yang eksis sekarang dan pecahnya peraturan internasional.” Karena alasan yang sama, kita akan sulit melihat ketertiban Asia yang damai dan makmur.

Menurut ungkapan PKT, tatanan sekarang ini adalah dipaksakan oleh kekuatan (imperialis), jadi perlu untuk membentuk ulang tatanan dan peraturan internasional. Dalam ribuan tahun sejarah perang manusia, umumnya karena alasan yang sama, tak lain karena pihak yang dulunya lemah kemudian menjadi kuat dan menetapkan ulang peraturan yang hanya menguntungkan baginya, maka lantas tak segan untuk menjajal senior yang ada sebelumnya, apalagi PKT adalah partai politik yang sarat dengan ideologi sesat.

Dunia sekarang ini sebenarnya sedang menghadapi bahaya yang sama. Seiring dengan relatif menurunnya kekuatan AS, stabilitas dunia ini juga akan berubah, dan RRT yang saat ini masih dikuasai oleh PKT, sifat kesewenang-wenangan PKT yang mengandalkan pertarungan untuk membangun negara, sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk menunggu peluang yang lebih cocok untuk menjadi pemimpin, dan ingin segera menandingi sang senior.

Paus berpendapat dunia telah memasuki “perang”, dan makna “perang” ini mungkin berbeda dengan pengertian perang konvensional dahulu, ini adalah momen dimana dunia sedang memasuki kekacauan norma hidup dan memicu meletusnya berbagai konflik, sementara dunia Timur Jauh relatif tenang, sangat mirip dengan sikon Eropa Barat sebelum PD-II. Berapa banyak hari-hari damai kita tersisa?

Dunia yang moralitasnya terus merosot ini sedang berada dalam bahaya dan sangat tidak tenang, manusia sedang menghadapi perubahan besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *