wpid-11342copycopy_ratio-16x9

Dari Mega Sampai Agus yang Dicibir Karena Menolak Berdebat

wpid-11342copycopy_ratio-16x9

Belakangan meme tentang absennya Agus Harimurti Yudhoyono dalam dua acara debat calon gubernur DKI Jakarta di televisi berseliweran di media sosial. Ada yang pro dan banyak yang kontra. Yang pro merasa senang karena kandidat unggulannya, seperti kata Agus sendiri, “lebih senang bersama rakyat, ketimbang ikut debat yang bukan debat resmi”. Sementara yang kontra menyayangkan sikap Agus karena dianggap membuang kesempatan mengenalkan diri lebih kerap dalam siaran terbuka secara cuma-cuma.

Pro-kontra tentang debat calon pemimpin yang menolak hadir sudah ada presedennya bahkan sejak kali pertama dikenalkan di Indonesia. Pada medio 1999, Megawati Sukarnoputri menolak datang ke sebuah acara debat. Sebagaimana Agus, Megawati kena sindiran meski hiruk-pikuknya masih dalam medium terbatas, tidak segaduh seperti sekarang.

Tabloid Perspektif edisi 29 April-5 Mei 1999, misalnya, menggambarkan kekecewaan Vijaya Fitriyasa, Presiden Keluarga Mahasiswa ITB yang jadi penyelenggara acara tersebut. Forum yang semula berbentuk debat antara kandidat calon presiden berubah cuma ajang dengar pendapat serupa acara bincang-bincang biasa di televisi. Alasannya, kata Vijaya, karena ketidakhadiran Mega.

Forum yang diadakan 22-23 April 1999 itu hanya dihadiri Amien Rais dari Partai Amanat Nasional, Ahmad Sumargono dari Partai Bulan Bintang, Didin Hafidhuddin dari Partai Keadilan, Sri Bintang Pamungkas dari Partai Uni Demokrasi Indonesia, Ida Nasim dari Partai Rakyat Demokratik, dan Deliar Noer dari Partai Ummat Islam. Padahal tujuan panitia mengadakan acara itu sebagai panggung masyarakat menilai calon pemimpinnya. Paparan misi dan umbaran wawasan sang kandidat dinilai penting dalam pemilu demokratis pertama yang diselenggarakan Indonesia setelah pemilu 1955.
TIRTO.ID » POLITIK
Dari Mega Sampai Agus yang Dicibir Karena Menolak Berdebat
Dari Mega Sampai Agus yang Dicibir Karena Menolak Berdebat Debat Capres 2009. FOTO/ANTARA
94 Shares
Reporter: Aulia Adam
20 Desember, 2016 dibaca normal 3 menit

Tradisi debat calon pemimpin di Indonesia kembali dikenalkan pada pemilu perdana pasca-Soeharto.
Debat kandidat presiden hingga kepala daerah mulai disiarkan televisi pada 2004 dan jadi model kampanye.

Debat kandidat politik di Indonesia mulai semarak sesudah Soeharto lengser. Pada medio 1999, masih dalam medium terbatas, debat antara calon pemimpin memuat serangan personal.
tirto.id – Belakangan meme tentang absennya Agus Harimurti Yudhoyono dalam dua acara debat calon gubernur DKI Jakarta di televisi berseliweran di media sosial. Ada yang pro dan banyak yang kontra. Yang pro merasa senang karena kandidat unggulannya, seperti kata Agus sendiri, “lebih senang bersama rakyat, ketimbang ikut debat yang bukan debat resmi”. Sementara yang kontra menyayangkan sikap Agus karena dianggap membuang kesempatan mengenalkan diri lebih kerap dalam siaran terbuka secara cuma-cuma.

Pro-kontra tentang debat calon pemimpin yang menolak hadir sudah ada presedennya bahkan sejak kali pertama dikenalkan di Indonesia. Pada medio 1999, Megawati Sukarnoputri menolak datang ke sebuah acara debat. Sebagaimana Agus, Megawati kena sindiran meski hiruk-pikuknya masih dalam medium terbatas, tidak segaduh seperti sekarang.

Tabloid Perspektif edisi 29 April-5 Mei 1999, misalnya, menggambarkan kekecewaan Vijaya Fitriyasa, Presiden Keluarga Mahasiswa ITB yang jadi penyelenggara acara tersebut. Forum yang semula berbentuk debat antara kandidat calon presiden berubah cuma ajang dengar pendapat serupa acara bincang-bincang biasa di televisi. Alasannya, kata Vijaya, karena ketidakhadiran Mega.

Forum yang diadakan 22-23 April 1999 itu hanya dihadiri Amien Rais dari Partai Amanat Nasional, Ahmad Sumargono dari Partai Bulan Bintang, Didin Hafidhuddin dari Partai Keadilan, Sri Bintang Pamungkas dari Partai Uni Demokrasi Indonesia, Ida Nasim dari Partai Rakyat Demokratik, dan Deliar Noer dari Partai Ummat Islam. Padahal tujuan panitia mengadakan acara itu sebagai panggung masyarakat menilai calon pemimpinnya. Paparan misi dan umbaran wawasan sang kandidat dinilai penting dalam pemilu demokratis pertama yang diselenggarakan Indonesia setelah pemilu 1955.

Sayangnya, Mega yang “dianggap calon pemimpin setara dan ditunggu-tunggu khalayaknya” dan “penampilannya ditunggu banyak pihak” enggan hadir karena alasan debat bukanlah budaya timur. Vijaya, merujuk laporan Tabloid Perspektif, sempat uring-uringan dan karena merasa tak puas, dia berjanji mengadakan debat seri kedua pada bulan berikutnya.

“Dijamin lebih seru,” kata Vijaya, yang sempat jadi calon legislatif dari PAN dalam Pemilu 2004.

Cuma selang empat hari, Forum Salemba (Forsal) dari Universitas Indonesia merancang acara serupa. Kali ini terang-terangan mengusung format debat Capres. Ada tujuh kandidat yang diundang. Amien Rais, Sri Bintang Pamungkas, Didin Hafidhuddin, Yusril Ihza Mahendra, Budiman Sudjatmiko, Akbar Tanjung, dan Megawati Soekarnoputri.

Sikap Megawati masih sama. Ia tak hadir.

Berlian Idriansyah, Presidium Forsal yang juga Mahasiswa Kedokteran UI 1995, pun geram atas kelakuan Megawati. Pada Tabloid Perspektif, dia berujar, “Saya mendengar beberapa kandidat yang tak datang menganggap Forsal kurang kompeten dalam menyelenggarakan acara debat ini.”

Selain Megawati, Akbar Tanjung juga tak bisa hadir karena turut menemani Presiden B.J. Habibie bertemu Perdana Menteri Australia John Howard di Bali. Sementara Budiman Sudjatmiko tidak datang karena tak diberi izin keluar dari Lapas Cipinang oleh Menteri Kehakiman. Budiman saat itu masih mendekam di dalam penjara.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *