Ajudan Aniaya Sopir Truk CPO di Jalanan, Bupati Kutai Barat Minta Maaf

Ajudan Aniaya Sopir Truk CPO di Jalanan, Bupati Kutai Barat Minta Maaf

Sebuah video yang memperlihatkan aksi penganiayaan terhadap sopir truk yang diduga dilakukan ajudan Bupati Kutai Barat, Kalimantan Timur, FX Yapan beredar di media sosial.

Video viral itu bahkan turut diunggah Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni dalam akun Instagramnya @ahmadsahroni 88.

Dalam video tersebut terlihat awalnya pelaku menarik tangan sopir truk dan memaksanya untuk keluar dari kendaraannya. Pelaku kemudian membuka pintu truk dan menarik sopir keluar hingga terjatuh.

Setelahnya, pelaku langsung menendang kepala dan punggung sopir truk yang terkapar di tanah tersebut. Pelaku menghentikan aksinya setelah dilerai oleh beberapa orang yang ada di lokasi.

Kabid Humas Polda Kalimantan Timur Kombes Pol Yusuf Sutejo membenarkan peristiwa tersebut. Namun, kata dia, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan terkait kejadian pemukulan itu.

“Betul kenyataannya seperti itu,” kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (21/12).

Yusuf turut mengungkapkan ajudan Bupati Kutai Barat itu merupakan anggota TNI. Karenanya, kejadian tersebut ditangani oleh Kodim Kutai Barat.

“Diduga ajudan bupati tersebut adalah oknum TNI, oknum anggota Kodim, jadi penanganan sementara ke Dandim, Kodim,” ucap dia.

Bupati Kutai Barat minta maaf
Sementara itu, mengutip dari Antara, Bupati Kutai Barat FX Yapan menyampaikan permintaan maaf atas kasus pemukulan yang dilakukan ajudannya terhadap sopir truk pengangkut minyak sawit mentah di kawasan Kinong, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Rabu (20/12).

Aksi pemukulan yang dilakukan ajudan bupati Kutai Barat itu terekam kamera telepon pintar warga dan diunggah ke media sosial hingga kemudian menjadi viral.

“Karena itu, saya atas nama pribadi, keluarga, Pemerintah Kutai Barat, dan atas nama ajudan saya minta maaf karena suatu hal yang tidak seharusnya terjadi,” ucap Yapan dalam konferensi pers di Kantor Bupati Kutai Barat, Barong Tongkok, Kamis.

Menurut Bupati Yapan, kejadian pemukulan itu berawal saat rombongan mobil yang ditumpanginya bertemu konvoi lima truk pengangkut minyak sawit mentah.

Saat itu, kata dia, rombongan mobil Bupati Yapan dalam perjalanan pulang kampanye dari Kecamatan Jempang dan menggunakan mobil pribadi tanpa pengawalan protokoler.

Dia mengatakan Truk pengangkut minyak sawit mentah (CPO) berkapasitas 15 ton atau 20 ton adalah kendaraan besar, panjang, dan lebar.

Diduga sopir truk tidak serta merta melihat kendaraan lain di belakangnya apabila hanya mengandalkan kaca spion. Pasalnya selain ukuran truk yang besar, juga lebar jalan hanya enam meter. Hal itu pun membuat mobil rombongan bupati Kutai Barat tidak mudah menyalip truk CPO.

Saat memasuki Simpang Damai, rombongan mobil Bupati Yapan meminta jalan kepada truk-truk angkutan CPO tersebut.

Empat truk memberi jalan dengan sedikit menepi, namun truk terakhir yang dikemudikan Andri Rahman–korban penganiyaan ajudan bupati– tetap melaju seperti awalnya menggunakan seluruh badan jalan.

Sopir mobil Bupati Yapan melambaikan tangan ke pengemudi truk CPO sebagai tanda minta jalan, selain juga karena di belakang rombongan ada mobil ambulans.

Kemudian mobil bupati tetap berusaha mendahului. Saat itu juga dari arah berlawanan muncul sebuah bus.

“Pas mau masuk (Jembatan) Kinong ada bus dari depan, lalu si Daniel (ajudan) melambaikan tangan supaya truk CPO memberi jalan, sementara bus sudah berhenti. Tapi, begitu kami mau masuk menyalip, dihajarnya lagi. Hampir digulung (ditabrak) dia,” klaim Yapan.

Maksud Yapan mengatakan “dihajarnya” adalah truk CPO tidak mengurangi kecepatan dan tetap di jalurnya sehingga membuat mobil yang dinaiki Bupati Yapan keluar jalur dan berhenti. Truk CPO yang dikemudikan Andri Rahman juga berhenti.

Lalu ajudan serta Bupati Yapan ikut turun ingin menegur sopir truk CPO. Tetapi, saat ditegur, menurut Yapan, sopir truk CPO malah juga marah-marah.

Menurut Yapan, ajudan bupati itu emosi dan meminta sopir truk CPO turun dari kendaraannya hingga kemudian terjadilah penganiayaan tersebut.

“Karena Daniel ini emosi akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak kita inginkan. Saya juga keluar melerai terus ada kemenakan saya juga keluar melerai. Tapi, dia sempat ditendang Daniel (ajudan). Kalau sampai terjadi (kecelakaan) enggak ketemu kita hari ini,” ujar Yapan.

Meski begitu, Yapan mengaku kedua belah pihak sudah saling memaafkan dan menandatangani surat pernyataan damai pada Kamis pagi.

Di Balikpapan, para jurnalis mengonfirmasi kasus penganiayaan yang dilakukan ajudan bupati Kutai Barat terhadap sopir truk CPO itu kepada Kapolda Kaltim Irjen Polisi Nanang Avianto.

“Kasusnya sudah ditangani Polres Kubar,” kata Kapolda.

CATEGORIES
TAGS
Share This