#
Cina Bangun (Lagi) Dua Unit Hovercraft ‘Raksasa’ Zubr Class, Persiapan Invasi Ke Taiwan?

Cina Bangun (Lagi) Dua Unit Hovercraft ‘Raksasa’ Zubr Class, Persiapan Invasi Ke Taiwan?

Zubr class, sampai saat ini dikenal sebagai Landing Craft Air Cushion (LCAC) atau hovercraft terbesar di dunia. Dibangun Ukraina saat era kejayaan Uni Soviet, kini justru Zubr class debutnya lebih populer digunakan oleh Cina. Sang Naga mengoperasikan empat unit Zubr class, dan kabarnya ada dua lagi yang sedang dalam proses pembangunan. Identik sebagai wahana serbu amfibi, keberadaan Zubr class kerap dikaitkan dengan upaya Cina untuk menginvasi Taiwan.

Dikutip dari navalnews.com (9/7/2023), disebutkan produksi lanjutan Zubr class sedang berlangsung untuk kebutuhan Angkatan Laut Cina. Setidaknya dua lambung baru yang diduga Zubr class telah muncul dalam foto-foto yang beredar di media sosial, yang menjadikan Cina nantinya mengoperasikan enam unit Zubr class.

Lambung Zubr class pertama yang baru dibangun diketahui bernomor 3260, pertama kali terlihat pada Mei 2023. Kemudian lambung Zubr class kedua dengan nomor 3261, pertama kali didokumentasikan beberapa hari lalu.

Cina sebelumnya telah membeli dua Zubr class langsung dari Ukraina. Kedua hovercraft bernomor 3325 dan 3326, dikirim pada tahun 2014. Upaya selanjutnya dilakukan untuk merakit dua unit hovercraft lagi dilakukan secara lokal di Cina – yang dijuluki Type 728. Kedua Zubr class (Type 728) rakitan Cina bernomer 3327 dan 3328, keduanya dikirim ke arsenal AL Cina pada tahun 2018.

Sejak saat itu produksi lanjutan Zubr class tampaknya telah berhenti, mengarah ke spekulasi mengenai adanya masalah, seperti kesulitan produksi, faktor politik yang timbul dari konflik Rusia-Ukraina, hingga utilitas operasional untuk kebutuhan Cina.

Dua unit Zubr LCAC terbaru menampilkan perbedaan kecil dengan empat unit yang sudah beroperasi. Ini termasuk pemasangan fire control-radar di tempat yang sama, di mana kapal sebelumnya membawa sistem penargetan elektro-optik (E/O-turret). Tiang yang membawa radar navigasi dan peralatan komunikasi juga dirancang ulang, sekarang menampilkan struktur penyangga berbentuk salib, bukan tata letak yang lebih sederhana pada empat unit pertama.

Memasang peralatan penyelamat di sepanjang superstruktur adalah perbedaan kecil lainnya. Kesimpulannya, semua aspek ini mendukung anggapan bahwa ini adalah lambung yang baru dibangun dan bukan sekadar penomoran ulang kapal yang ada.

Angka total Zubr class yang direncanakan dalam layanan masih belum diketahui dan oleh karena itu skala produksi di masa depan harus dikonfirmasi. Namun demikian, kemunculan unit-unit yang baru dibuat ini menunjukkan bahwa AL Cina bermaksud untuk menyebarkan Zubr pada skala yang lebih besar dari yang ditunjukkan sebelumnya.

Dalam penggelaran, Zubr class saat ini ditempatkan di pangkalan Sanya di Laut Cina Selatan, bersamaan dengan penempatan hovercraft Type 726 yang lebih kecil.

Zubr Class yang dapat merangsek masuk ke bibir pantai tanpa risiko melindas ranjau, mampu membawa tiga unit MBT (Main Battle Tank) hingga total berat keseluruhan 150 ton. Atau bisa juga Zubr Clss membawa 10 rantis lapis baja dengan 140 pasukan (total berat 131 ton).

Konfigurasi lain membawa 8 rantis lapis baja angkut personel (115 ton), sampai pilihan membawa 8 tank amfibi. Zubr Class dapat pula di-setting untuk membawa full pasukan, yaitu 500 pasukan dapat dibawa sekali jalan, dengan 360 pasukan di antaranya ditempatkan di kompartemen kargo. Total luas kargo mencapai 400 meter persegi.

Zubr Class yang punya panjang 57 meter dan lebar 25,6 meter, juga dilengkapi empat peluncur rudal MANPADS Strela, tidak itu saja, ada bekal dua peluncur roket Ogon kaliber 140 mm, dimana total ada 132 roket yang siap dilepaskan. Pada misi tertentu, Zubr Class bahkan dapat melepaskan 20-80 ranjau laut.

Zubr class ditenagai tiga mesin turbin gas M35-1, yang masing-masing mesin punya kekuatan 10.000 hp. Tenaganya juga didukung oleh empat NO10 superchargers propellers. Kecepatan Zubr Class pun fantastis, yaitu bisa melesat dengan kecepatan maksimum 65 knot (setara 120 km per jam).

Sementara kecepatan jelajahnya 55 knot (setara 101 km per jam). Dengan bahan bakar penuh 56 ton, jarak jelajahnya memang hanya 560 km, namun itu dipandang lebih dari cukup bagi Cina dalam melakukan invasi, pasalnya lebar Selat Taiwan yang memisahkan Cina daratan dan Pulau Formosa hanya 180 km.

CATEGORIES
TAGS
Share This