Dewan Pers awasi penyebaran paham terorisme di area media sosial

Dewan Pers awasi penyebaran paham terorisme di area media sosial

IndoPolitik.com – “Ini akan menunjukkan pentingnya peran lembaga pengawas media pada mengarahkan praktik jurnalistik yang digunakan bertanggung jawab juga aman bagi masyarakat,”

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Pers Muhammad Agung Dharmajaya mengungkapkan pihaknya terus berupaya mengawasi penyalahgunaan media sosial juga teknologi komunikasi di konteks keamanan nasional dengan fokus pada upaya pencegahan propaganda, penyebaran paham terorisme, kemudian rekrutmen anggota terorisme.

"Ini akan menunjukkan pentingnya peran lembaga pengawas media pada mengarahkan praktik jurnalistik yang tersebut bertanggung jawab dan juga aman bagi masyarakat," ujar Agung pada Diskusi Komunitas Wadah terkait Peran Industri Media Massa pada Pencegahan Paham Radikal Terorisme di tempat Jakarta, Selasa.

Ia menyebutkan teknologi komunikasi dan juga media sosial tak selalu digunakan secara positif, tetapi terkadang juga dimanfaatkan untuk tujuan negatif, termasuk di kegiatan terorisme.

Berdasarkan penelusuran Dewan Pers, narasi paham terorisme marak muncul di area media sosial sebagai wadah media baru, seperti Twitter atau X, Instagram, maupun Youtube.

Media Massa sosial lalu kemajuan teknologi komunikasi, kata Agung, digunakan oleh pelaku terorisme untuk menyebarkan propaganda, berita, serta merekrut anggota baru.

Dengan begitu, dirinya menilai situasi yang dimaksud menunjukkan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk tujuan yang tersebut tiada aman.

"Kesadaran pelaku terorisme tentang kemungkinan media sosial sebagai alat propagandanya menyoroti bahwa media sosial tidak ada bersifat netral, tetapi tergantung pada bagaimana individu menggunakan wadah yang dimaksud untuk tujuan tertentu," ucap dia.

Maka dari itu, Agung menegaskan media sosial tidak ada sanggup disamakan dengan media online atau daring, di tempat mana merupakan media massa arus utama (mainstream) yang mana menggunakan media daring.

Untuk itu, lanjut dia, hal yang dimaksud yang digunakan menjadikan peran media massa di menghindari paham radikal terorisme menyebar sangat penting dikarenakan pers berdampak pada pemahaman lalu partisipasi publik.

"Namun media massa berpotensi menjadi 'oksigen' bagi aksi terorisme melalui berita yang dimaksud berlebihan kemudian pelanggaran kode etik jurnalistik," kata Agung mengingatkan.

CATEGORIES
TAGS
Share This