Polisi gunakan SCI untuk singkap kematian wanita dalam petikemas

Polisi gunakan SCI untuk singkap kematian wanita dalam petikemas

IndoPolitik.com – sidik jari sulit dideteksi dikarenakan kondisi jenazah membusuk

Jakarta – Polisi menggunakan berbagai disiplin ilmu baik murni maupun terapan (scientific crime investigation/SCI) untuk menyingkap kematian misterius wanita pada di peti kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Ibukota Indonesia Utara, Selasa (16/1).

"Ini dijalankan dikarenakan di proses penyelidikan itu menghadapi sebagian kendala, antara lain sidik jari sulit dideteksi lantaran kondisi jenazah membusuk," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pelabuhan Tanjung Priok Inspektur Satu I Gusti Ngurah Putu Krishna Narayana di tempat Jakarta, Rabu,

Scientific Crime Investigation (SCI) sendiri adalah proses pengungkapan langkah pidana yang digunakan menggunakan berbagai disiplin ilmu baik ilmu murni atau terapan yang digunakan dikembangkan secara ilmu forensik juga lebih banyak berjauhan lagi.

Karena itu, di prosesnya, polisi juga melakukan inter-kolaborasi proses.

Ia menjelaskan, ketika kendala deteksi sidik jari sulit pada kondisi jenazah yang dimaksud membusuk, maka selanjutnya dapat dijalankan dengan tindakan (treatment) khusus pada segi forensik.

Misalnya dengan membekukan jari menggunakan larutan kimia khusus, lalu didiamkan beberapa waktu hingga sidik jari terdeteksi.

Oleh dikarenakan itu, lanjutnya, pihaknya berkoordinasi dengan kelompok forensik untuk menjadwalkan upaya yang disebutkan pada satu hingga dua hari mendatang.

Unit Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok juga telah memeriksa lima orang saksi terkait persoalan hukum penemuan jenazah misterius pada peti kemas pada Selasa (16/1/2024).

Saksi tambahan yang digunakan diperiksa yaitu dua orang dari perusahaan pelayaran peti kemas (shipping).

"Sebelumnya orang yang tersebut membuka peti kemas pertama kali berinisial MZ, dan juga dua petugas keamanan di tempat area terminal bongkar-muat berinisial T juga K juga telah diperiksa sebagai saksi," kata Ngurah.

 
Dokumen dari dokter forensik Rumah Sakit Polri menyatakan bahwa jenazah berjenis kelamin perempuan berusia 50-65 tahun, tinggi 153 cm, dengan rambut ikal beruban, ditemukan tanpa tanda kekerasan pada dermis atau kehancuran organ hingga patah tulang.
Jenazah mengenakan celana pendek hitam ukuran 28 kemudian celana pada berwarna coklat tua.
Meskipun ditemukan tanda-tanda kekurangan oksigen, penyulut kematian belum dapat ditentukan.
Kematian diperkirakan terjadi antara dua hingga sepuluhan minggu sebelum pemeriksaan, menjadi fokus penyelidikan tambahan lanjut terhadap perkara ini.
Bahkan, penyelidik Unit Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok menemukan peti kemas dikirimkan kosong dari Surabaya sejak awal Januari lalu ditumpuk di tempat Pelabuhan Tanjung Priok hingga 16 Januari, sebelum hendak digunakan kembali untuk proses muat barang.

CATEGORIES
TAGS
Share This